Mengapa Aturan HR Kadang Bersebrangan dengan Tim ?

Waktu awal karier saya di dunia perbankan dulu, pertanyaan ini sering banget melintas di kepala. Aturan dibuat sangat rapi, tebal, dan komprehensif.

Tapi di lapangan? Karyawan tetap bekerja dengan kebiasaan lama.

Kepatuhan hanya muncul saat ada audit atau sidik manajemen.

Akar masalahnya sederhana : Aturan tersebut terasa kaku dan murni bersifat top-down. Karyawan merasa didikte dan diawasi, bukan dirangkul apalagi diayomi.

Ketika CoC diperlakukan sekadar sebagai instrumen sanksi, yang lahir bukanlah kepatuhan (compliance), melainkan rasa takut (fear). Dan rasa takut tidak pernah bisa menciptakan budaya kerja yang high-performing. Solusinya bukan membuat sanksi yang lebih berat atau denda yang lebih besar.

Dari pengalaman memfasilitasi integrasi budaya di berbagai organisasi, ada 3 pergeseran mendasar yang harus dilakukan :

1. Involve Frontliners & Young Talents Jangan cuma merumuskan CoC di ruang rapat eksekutif. Libatkan perwakilan tim dan generasi muda saat menerjemahkan nilai ke dalam standar perilaku harian yang relevan dengan pekerjaan mereka.

2. Explain the WHY Behind the RulesManusia lebih mudah mematuhi aturan ketika paham alasannya. Jelaskan bagaimana aturan tersebut melindungi keselamatan kerja, reputasi tim, hingga pertumbuhan karier mereka sendiri.

3. Leaders as Living Role Models Culture is caught, not taught. Atasan harus menjadi orang pertama yang mempraktikkan aturan tersebut secara konsisten, bukan malah menjadi pengecualian.

Aturan yang efektif tidak lahir dari ancaman sanksi, melainkan dari rasa bangga menjadi bagian dari standar tersebut. Bagaimana dengan pengalaman rekan-rekan di perusahaan atau tim masing-masing?

Apakah penerapan CoC di tempat Anda sudah berjalan efektif atau masih terasa sekadar formalitas?

Yuk, kita berdiskusi dan berbagi pandangan di kolom komentar! 👇

#CorporateCulture #HumanCapital #CodeOfConduct #Leadership #PehaSolution #LearningAndDevelopment

Scroll to Top